All for Joomla All for Webmasters
Media Berbagi dan Bertukar Informasi Warga Seputar Kabupaten Majalengka

Tradisi ‘Nyiramkeun’ Pusaka Talaga ManggungSejarah dan Budaya 

infomjlk.co – Salah satu tradisi budaya di Majalengka adalah tradisi yang di gelar oleh keturunan Kerajaan Talaga Manggung yaitu ‘Nyiramkeun’.

Tradisi Nyiramkeun merupakan sebuah tradisi yang berada di Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka. Tradisi Nyiramkeun merupakan tradisi berupa mencucikan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Talaga. Kata Nyiramkeun berasal dari kata Sunda yaitu Siram yaitu mencuci dengan menggunakan air. Tradisi ini berguna untuk melestarikan benda-benda penginggalan kerajaan Talaga tersebut. Tradisi Nyiramkeun dilaksanakan secara turun temurun oleh yayasan Talaga Manggung yang merupakan keluarga keturunan Kerajaan Talaga Manggung pada hari senin pada tanggal belasan Bulan Safar.

Benda-benda yang dicuci dalam upacara ini adalah patung simbarkencana, patung raden panglurah, genta, uang koin kuno, gamelan, senjata keris, golok dan pedang, meriam, senjata, dan baju zirah (perang).

Air untuk penyucian benda-benda pusaka tersebut berasal dari 9 sumber mata air (Ci Nyusu) yang diambil oleh kuncen menggunakan tempat penyimpanan yang berasal dari bambu kuning. Kesembilan sumber mata air (Ci Nyusu) tersebut adalah :

  1. Mata air Gunung Bitung.
  2. Mata Air Situ Sangiang.
  3. Mata Air Wanaperih.
  4. Mata Air Lemah Abang.
  5. Mata Air Ciburuy.
  6. Mata Air Regasari.
  7. Mata Air Cikiray.
  8. Mata Air Cicamas
  9. Mata Air Nunuk

Ketujuh mata air tersebut terletak di wilayah Talaga dan sekitarnya. Mata air tersebut berada di tempat-tempat yang ada kaitannya dengan sejarah Kerajaan Talaga.

Acara Nyiramkeun Museum Talaga Manggung biasanya dimulai dengan adanya acara Kirab Pusaka, 9 Mata Air Cinyusu, dan iring-iringan Seba Desa atau membawa hasil pertanian dari Desa Nunuk Kec. Maja. Kemudian dilanjutkan dengan menempatkan Jagabaya di 4 Mazhab di sekitar lingkungan Museum Talaga Manggung, setelah itu dilanjutkan dengan membawa hasil pertanian Seba Desa ke dalam Leuit (Lumbung padi).

Selanjutnya itu benda-benda pusaka di simpan dipanggung-panggung terpisah. Misalnya Patung Budha yang dalam masyarakat dikenal sebagai tokoh Simbarkencana dan Patung Raden Panglurah dipisahkan tepat pencuciannya dari benda-benda lainnya seperti gamelan atau meriam. Kedua patung tersebut sangat diistimewakan.

Setelah pembagian tempat tersebut lalu disimpan sebuah kendi untuk kemudian diisi oleh air yang berasal dari 9 mata air tersebut dan kemudian dicampurkan oleh kembang setaman. Air yang diisi dari campuran ke 9 mata air tersebut kemudian campurkan dengan air lainnya yang sudah disediakan di setiap panggung. Setelah itu kemudian dilakukan prosesi Nyiramkeun disetiap panggung. Untuk pencucian patung Simabarkencana dilakukan oleh kaum wanita, sedangkan patung Raden Panglurah oleh kaum pria, sedangkan benda-benda lainnya dilakukan oleh keluarga keturunan  Kerajaan Talaga lainnya.

Mereka yang bertugas untuk mencucikan benda-benda pusaka ini, untuk kaum pria mengunakan baju kampret hitam dan ikat kepala, sedangkan untuk kaum wanita menggunakan kebaya. Air hasil pencucian benda-benda pusaka biasanya diperebutkan oleh warga yang menyaksikan tradisi Nyiramkeun. 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *