All for Joomla All for Webmasters
Media Berbagi dan Bertukar Informasi Warga Seputar Kabupaten Majalengka

Menelusuri Keberadaan Pemakaman Belanda di Cicurug MajalengkaSejarah dan Budaya 

Majalengka, infomjlk.co – Keberadaan pemakaman Belanda di Majalengka mungkin tidak banyak diketahui oleh warga Majalengka sendiri, seakan ke beradaanya terlupakan seiring bergulirnya zaman. Pemakaman Belanda di Majalengka terletak di Kelurahan Cicurug Majalengka. Tak jauh dari Balai Kelurahan Cicurug sekitar +300 ke arah timur. Masyarakat sekitar biasanya menyebutnya Berkop atau Kerkop kata atau pelafalan yang ‘keseleo lindah’ orang Majalengka dalam menyebut kata ‘Kerhkoff’ bahasa belanda yang diartikan berarti ‘halaman gereja’ yang dulu identik dengan komplek pemakaman.

Sebelum masuk kedalam kawasan pemakaman terdapat sebuah gapura yang terlihat masih cukup kokoh dan samar-samar terdapat relif tulisan. Relif tersebut tertulis ‘Memento Mori’ yan berasal dari bahasa Latin yang bila diartikan berarti ‘Ingatlah Akan Kematian’. Tulisan ini umum terdapat di gerbang kompleks pemakaman Belanda misalnya seperti Kerkhof di Kota Purworejo Jawa Tengah. Jumlah makam Belanda di kawasan ini tidak diketahui pasti karena banyak makam yang hancur dan tergantikan oleh lahan warga. Kompleks makam Belanda di Cicurug memanjang dari barat ke timur, dengan gapura menghadap ke utara dan terletak agak di sebelah barat kompleks pemakaman.

Bentuk makam terdiri dari beberapa jenis seperti berbentuk tugu atau sarkofagus/peti. Beli kita masuk pertama kami ke kompleks pemakaman ini kita akan langsung dapat meilihat bentuk makam yang bervariasi seperti tugu dan peti. Mayoritas cukup megah. Hal ini merupakan suatu kelaziman bila makam mewah ditempatkan di bagian depan, hal ini terjadi untuk menghormati jenazah yang berasal dari keluarga yang memiliki status sosial tinggi dan juga dari sisi kemampung finansial keluarga jenazah tersebut. Makam yang cukup unik adalah makam yang berbentuk seperti tugu serta sebuah makam berbentuk peti dengan bangunan pelindung diatansya, sayang tidak diketahui siapa yang dimakamkan di makam tersebut karena prasasti makam telah hilang.

Bila makam mewah berada di sisi barat, maka sisi timur adalah makam makam yang cenderung berbentuk biasa bahkan bentuk hampirnya seragam. Beruntung beberapa makam disini masih masih dapat diketahu siapa ‘pemiliknya’ karena masih terdapat prasasti di makam tersebut. Beberapa nama yang di makamkan disini adalah Jalahade (1912), Johannes Selanno (1933) dan J.Lonan (1939). Rata-rata mereka meninggal masih dalam usia balita dan anak-anak, kemungkinan mereka meninggal akibat tidak kuat melawan penyakit tropis.

Selain itu melalui prasasti tersebut terdapat perasamaan tempat lahir anak-anak tersebut yatu Pandeglang, berdasarkan Koran Bataviaasch Nieuwsblad yang terbit pada tanggal 15/8/1929 militer Belanda memindahkan pasukan Korps Marechaussee te Voet yaitu pasukan elit/khusus Belanda yang terbentuk ada masa Perang Aceh dari kawasan Pandeglang Banten menuju Tangsi (asrama) militer Belanda di Majalengka (Kini Kompleks Kodim 0617/Majalengka di Tonjong). Pemindahan pasukan ini tentunya membawa keluarga para tentara dari Pandeglang ke Majalengka.

Keberadaan pemakam Belanda kini dalam kondisi mengkhawatirkan dan sepatutnya mendapatkan perhatian dari semua pihak agar Kerkof Cicurug dapat menjadi situ sejarah di Majalengka dan menjadi pengingat bahwa sekuat apapun para penjajah, mereka tidak kebal dari kematian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *